Guma Sifilis: Penyebab, Penanganan, dan Pencegahannya

Kelamin February 2, 2026
SHARE ON
Guma Sifilis: Penyebab, Penanganan, dan Pencegahannya

Guma sifilis adalah pertumbuhan jaringan lunak seperti tumor (granuloma) yang terjadi pada penderita sifilis. Guma bisa muncul jika sifilis tidak diobati dan terus berkembang hingga stadium lanjut (tersier).

Guma paling sering mengandung massa jaringan mati dan bengkak seperti serat, namun berbeda dengan kanker. Ketahui semua tentang guma sifilis di sini beserta langkah penanganan dan pencegahannya.

Apa Itu Guma Sifilis?

Guma sifilis (disebut juga gummatous syphilis) adalah lesi granulomatous yang terjadi pada tahap lanjut sifilis (stadium tersier). Lesi ini bukan kanker, tetapi sering tampak seperti massa lunak atau nodul yang menyerupai tumor akibat proses peradangan yang sangat kronis.

Guma biasanya bukan area infeksi akut penuh bakteri, melainkan reaksi granulomatous tubuh terhadap sisa antigen bakteri yang telah lama berada di jaringan.

Guma dapat muncul di berbagai organ tubuh seperti kulit, tulang, hati, otak, dan jaringan lain, serta memiliki pusat nekrosis (jaringan mati) yang dikelilingi jaringan peradangan.

Bagaimana Guma Bisa Terbentuk?

Guma bisa terbentuk ketika sifilis tidak diobati pada stadium primer sehingga terus berkembang menjadi stadium tersier, yaitu ketika infeksi berlangsung bertahun-tahun tanpa pengobatan.

Pada tahap ini, tubuh menghasilkan reaksi imun yang menyebabkan granuloma kronis, yaitu kumpulan sel inflamasi yang membentuk benjolan atau massa jaringan sebagai respons terhadap antigen Treponema pallidum yang tersisa. Inilah yang disebut guma sifilis.

Secara mikroskopis, guma memiliki area nekrosis di tengah dengan sel-sel seperti makrofag, sel raksasa multinuklear, limfosit, dan plasma sel di sekitarnya. Pembentukan guma sering kali terjadi beberapa tahun atau puluhan tahun setelah infeksi awal sifilis yang tidak diobati.

Penanganan Guma Sifilis

Penanganan utama guma merupakan bagian dari terapi sifilis secara keseluruhan karena guma menunjukkan infeksi sifilis lanjut yang perlu diobati sistemik. Beberapa penanganannya:

  • Antibiotik penicillin tetap menjadi obat pilihan utama, sering diberikan intramuskular dalam bentuk benzathine penicillin G dengan jadwal yang sesuai untuk mengatasi sifilis tersier.

  • Guma pada beberapa lokasi seperti kulit atau genital dapat membaik setelah terapi antibiotik yang adekuat, meskipun proses penyembuhan jaringan membutuhkan waktu dan dapat meninggalkan bekas jaringan mati atau jaringan parut.

  • Dalam kasus guma yang sangat besar atau menyebabkan komplikasi fungsional (misalnya di otak atau jaringan dalam), evaluasi bedah atau perawatan suportif lanjutan mungkin diperlukan sesuai penilaian dokter.

  • Segera periksa ke dokter secara teratur untuk memantau hasil pengobatan.

Respons terhadap antibiotik umumnya baik. Namun karena guma terletak pada tahap lanjut penyakit, maka perlu pemantauan dan tindak lanjut untuk memastikan tidak ada komplikasi tambahan.

Cara Mencegah Guma Sifilis

Oleh karena guma merupakan komplikasi dari sifilis yang tidak diobati, pencegahannya terutama fokus pada menghentikan sifilis sebelum mencapai tahap tersier:

  • Deteksi dan diagnosis dini: Lakukan tes sifilis secara berkala jika berisiko serta periksa segera bila muncul gejala awal seperti luka sifilis atau ruam. Pasangan seksual juga perlu diperiksa dan diobati agar tidak menyebabkan penularan berulang.

  • Pengobatan sifilis yang tepat dan tuntas: Terapi antibiotik (penicillin) harus diselesaikan sesuai anjuran tenaga medis. Jangan menghentikan pengobatan meski gejala hilang atau Anda merasa sudah sembuh, pastikan kesembuhan Anda dengan periksa ke dokter.

  • Pemantauan dan tindak lanjut: Tes darah ulang untuk memantau apakah infeksi benar-benar hilang. Anda juga mungkin disarankan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan bila ada tanda penyakit lanjut.

  • Pencegahan penularan dan infeksi ulang: Hindari hubungan seks selama masa pengobatan, selalu gunakan kondom saat berhubungan seksual, serta hindari kontak langsung dengan luka pada sifilis aktif.

  • Edukasi dan kesadaran: Edukasi tentang sifilis perlu disebarluaskan sejak dini untuk mengetahui tanda-tandanya. Tingkatkan kesadaran bahwa sifilis bisa berlanjut jadi guma bila tidak diobati.

Cara-cara pencegahan ini tidak hanya mengurangi risiko guma, tetapi juga menghindarkan infeksi sifilis berkembang ke berbagai komplikasi lain yang serius.

Artikel ini Disusun Oleh Mirna S. Tim Medis Klinik kirana dan Sudah ditinjau oleh : dr. Hadi Purnomo - Kepala Dokter Klinik Kirana

Baca Proses Editorial Klinik Kirana disini : Proses Editorial

  • Martin, G. E., Wang, S., Maloney, N. S., Xu, D., Ruckle, H., Hofmann, M. R., & Hu, B. R. (2026). Tertiary syphilis presenting as a penile gumma. Urology Case Reports, 64, 103279. https://doi.org/10.1016/j.eucr.2025.103279
  • Park, H. S., Yoon, H. S., Cho, S., Moon, J., & Yu, D. A. (2018). Syphilitic gumma: A rare form of cutaneous tertiary syphilis. Annals of Dermatology, 30(6), 749–751. https://doi.org/10.5021/ad.2018.30.6.749
  • World Health Organization. (2016). WHO guidelines for the treatment of Treponema pallidum (syphilis). https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK384905/

Konsultasi Keluhan Anda Bersama Dokter Online. Gratis!

Langsung saja konsultasi online atau reservasi online
di nomor 082122077347 atau dapat mengklik link Konsultasi Gratis. Rahasia Terjamin.

Artikel Terkait