Herpes Zoster (Cacar Api): Penyebab, Gejala, dan Penanganan

Kesehatan October 15, 2025
SHARE ON
Herpes Zoster (Cacar Api): Penyebab, Gejala, dan Penanganan

Herpes zoster atau disebut cacar api adalah penyakit kulit yang ditandai ruam dan nyeri saraf. Gejala awalnya meliputi rasa terbakar, kesemutan, dan perubahan warna kulit. Anda juga mungkin mengalami sakit kepala atau demam sesaat sebelum ruam muncul.

Ketahui lebih dalam tentang herpes zoster di artikel berikut, Anda akan mendapat informasi penyebab herpes zoster, faktor risiko, hingga penanganannya.

Apa itu Herpes Zoster?

Herpes zoster (HZ), juga dikenal sebagai shingles atau cacar api, adalah penyakit yang terjadi akibat reaktivasi dan multiplikasi virus varicella zoster (VZV) yang persisten setelah seseorang mengalami varicella (cacar air) sebelumnya.

Penyakit ini ditandai dengan ruam dermatomal, nyeri, dan unilateral. Ruam biasanya berupa makula atau papula eritematosa yang berkembang menjadi vesikel, kemudian pustule, dan akhirnya menjadi kerak yang bertahan selama 2-3 minggu.

Herpes zoster dapat muncul di bagian tubuh mana pun. Biasanya tampak seperti luka lepuh tunggal yang melingkari sisi kiri atau kanan badan Anda. Terkadang, ruam herpes zoster muncul di sekitar salah satu mata, di salah satu sisi leher, atau di wajah.

Apa Penyebab Herpes Zoster?

Herpes zoster disebabkan oleh virus varicella-zoster, virus yang sama yang menyebabkan cacar air. Itulah mengapa jika Anda sudah pernah menderita cacar air, kemungkinan untuk terkena herpes zoster di kemudian hari akan lebih tinggi.

Setelah Anda terkena cacar air, virusnya akan tetap berada di dalam tubuh Anda seumur hidup namun dalam keadaan laten (tidur). Bertahun-tahun kemudian, virus tersebut dapat aktif kembali (reaktivasi) sebagai herpes zoster.

Bagaimana Gejala dari Herpes Zoster?

Gejala herpes zoster biasanya hanya memengaruhi sebagian kecil di salah satu sisi tubuh Anda. Gejala-gejala ini dapat meliputi:

  • Nyeri, rasa terbakar, atau kesemutan

  • Sensitivitas terhadap sentuhan

  • Ruam merah yang muncul beberapa hari setelah nyeri

  • Lepuh berisi cairan yang pecah dan berkerak

  • Gatal-gatal dan kulit menjadi merah

  • Sensitivitas terhadap cahaya

  • Kelelahan, demam, dan sakit kepala (jarang terjadi)

Nyeri biasanya merupakan gejala pertama herpes zoster. Bagi sebagian orang, nyerinya bisa sangat hebat. Beberapa orang ada yang mengalami nyeri herpes zoster namun tidak mengalami ruam.

Faktor Risiko Herpes Zoster

Siapa pun yang pernah terkena cacar air dapat terkena herpes zoster. Namun, herpes zoster akan lebih berbahaya terhadap seseorang jika:

  • Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah (bisa jadi akibat kanker, HIV, atau obat imunosupresif).

  • Berusia di atas 50 tahun.

  • Beberapa studi menyebut bahwa stres turut berperan dalam perkembangan herpes zoster, tetapi hal ini masih sulit dibuktikan.

Komplikasi Herpes Zoster

Herpes zoster juga bisa berkembang dan menjadi komplikasi, seperti:

  1. Neuralgia pasca herpes (NPH). Bagi sebagian orang, nyeri akibat herpes zoster bisa berlanjut lama setelah lepuhan hilang. Rasa nyeri dapat bertahan selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Kondisi ini terjadi ketika serabut saraf yang rusak mengirimkan sinyal nyeri yang membingungkan dan berlebihan dari kulit ke otak.

  2. Kehilangan penglihatan. Herpes zoster di dalam atau di sekitar mata (herpes zoster oftalmik) dapat menyebabkan infeksi mata yang menyakitkan dan dapat mengakibatkan kehilangan penglihatan.

  3. Masalah neurologis (saraf). Herpes zoster dapat menyebabkan peradangan otak (ensefalitis), kelumpuhan wajah, atau masalah pendengaran atau keseimbangan.

  4. Infeksi kulit. Jika lepuhan herpes zoster tidak diobati dengan benar, infeksi bakteri pada kulit dapat berkembang sehingga menyebabkan infeksi sekunder yang memperburuk kondisi kulit.

  5. Perubahan pigmen. Setelah ruam sembuh, beberapa orang mungkin mengalami bercak putih atau perubahan warna kulit akibat kerusakan pigmen.

Penanganan untuk Herpes Zoster

Berikut ini penanganan yang tepat untuk herpes zoster mulai dari awal terjangkit hingga pencegahannya:

1. Periksa untuk mendapat diagnosa tepat

Memeriksakan diri ke tenaga medis profesional adalah langkah awal ketika Anda merasakan gejala-gejala herpes zoster seperti yang sudah disebutkan di atas. Anda bisa menemui dokter umum atau langsung ke dokter spesialis kulit dan kelamin.

Nantinya, tenaga medis akan mendiagnosis herpes zoster dengan mempelajari gejala Anda dan mengamati ruamnya. Penyedia layanan kesehatan Anda mungkin juga akan mengambil sampel luka atau cairan dari lepuh kemudian dicek di laboratorium.

Jika ingin konsultasi online gratis, Anda bisa menggunakan layanan Klinik Kirana. Konsultasi tersedia setiap hari dengan dokter profesional. Silakan langsung klik menu WhatsApp dan sampaikan keluhan Anda.

2. Lakukan pengobatan sesuai anjuran dokter

Untuk penyakit herpes zoster, dokter biasanya akan memberikan obat untuk HSV secara general. Adapun obatnya adalah yang mengandung antivirus, seperti asiklovir, famciclovir, atau valasiklovir.

Untuk rekomendasi obat serta cara mengobati herpes zoster secara mandiri dapat Anda temukan selengkapnya di artikel Pengobatan Herpes Zoster yang Tepat & Pencegahan Kambuhnya.

3. Hindari berbagai pantangannya

Terdapat beberapa pantangan atau hal yang tidak boleh dilakukan selama Anda mengidap herpes zoster. Ini demi menjaga kondisi agar herpes tidak semakin parah. Berikut ini beberapa pantangannya:

  • Tidak menggaruk atau menggosok luka herpes

  • Tidak menyentuh benda setelah menyentuh luka herpes, virus varicella-zoster sangat mudah menular, tidak jarang juga menular melalui barang

  • Tidak berbagi barang dengan orang lain, misalnya handuk dan pakaian

  • Tidak mengalami stress berlebih

  • Tidak mengonsumsi makanan yang memicu alergi (untuk Anda yang memiliki alergi terhadap suatu makanan)

Selengkapnya: 5 Pantangan Herpes Zoster Agar Tidak Semakin Parah

4. Dapatkan vaksin untuk pencegahan

Vaksin herpes zoster penting untuk mencegah seseorang terjangkit virus varicella-zoster (VZV) sekaligus mencegahnya kambuh kembali. Terdapat dua jenis vaksin, yaitu Zostavax (1 dosis) dan Shingrix (2 dosis).

Pemilihan jenis vaksin tergantung Anda. Untuk menentukan mana yang terbaik untuk Anda, silakan konsultasikan kepada dokter terlebih dulu. Anda bisa berkonsultasi dengan dokter kulit dari Klinik Kirana secara online dan gratis. Klik menu WhatsApp untuk mulai konsultasi!

Artikel ini Disusun Oleh Mirna S. Tim Medis Klinik kirana dan Sudah ditinjau oleh : dr. Hadi Purnomo - Kepala Dokter Klinik Kirana

Baca Proses Editorial Klinik Kirana disini : Proses Editorial

  • Schmader K. Herpes Zoster. Ann Intern Med. 2018 Aug 7;169(3):ITC19-ITC31. doi: 10.7326/AITC201808070. Erratum in: Ann Intern Med. 2018 Oct 2;169(7):516. PMID: 30083718. Accessed 24 Nov 2023
  • Li Puma DD, Marcocci ME, Lazzarino G, De Chiara G, Tavazzi B, Palamara AT, Piacentini R, Grassi C. Ca2+ -dependent release of ATP from astrocytes affects herpes simplex virus type 1 infection of neurons. Glia. 2021 Jan;69(1):201-215. doi: 10.1002/glia.23895. Epub 2020 Aug 20. PMID: 32818313. Accessed 24 Nov 2023
  • Bioscmed.com - Herpes Zoster: Clinical Manifestation, Treatment, and Prevention M. Izazi Hari Purwoko1#, Hari Darmawan11Dermatology and Venereology Department, Faculty of Medicine Sriwijaya University, Palembang, Indonesia (https://www.bioscmed.com/index.php/bsm/article/view/129). Accessed 24 Nov 2023

Konsultasi Keluhan Anda Bersama Dokter Online. Gratis!

Langsung saja konsultasi online atau reservasi online
di nomor 082122077347 atau dapat mengklik link Konsultasi Gratis. Rahasia Terjamin.

Artikel Terkait