8 Ruam Kulit Penanda HIV, Ini Penanganannya

Kesehatan March 20, 2026
SHARE ON
8 Ruam Kulit Penanda HIV, Ini Penanganannya

Perubahan kulit bisa menjadi tanda pertama bahwa Anda mengidap HIV. Sekitar 90% orang dengan HIV mengalami ruam atau kondisi kulit lainnya pada suatu waktu. HIV mampu melemahkan sistem kekebalan tubuh sehingga memudahkan kuman penyebab masalah kulit untuk masuk.

Beberapa ruam kulit sebagai ciri dari HIV adalah molluscum contagiosum, sarkoma kaposi, hingga fotodermatitis. Ketahui semua ruam kulit sebagai gejala HIV di artikel ini. Anda juga akan mengetahui cara menanganinya.

Berbagai Gejala HIV pada Kulit

Berikut ini beberapa ruam kulit penanda HIV yang biasa muncul pada penderitanya:

1. Molluscum contagiosum

Benjolan gatal ini muncul di area seperti wajah, perut bagian bawah, paha bagian atas, dan alat kelamin. Anda lebih mungkin mengalaminya jika memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Molluscum contagiosum tidak berbahaya, tetapi benjolan dapat terinfeksi jika Anda menggaruknya. Benjolan ini juga terlihat tidak enak dipandang, terkadang bisa lebih dari 100 benjolan dapat terbentuk sekaligus. Dokter dapat menggunakan salep, laser, atau membekukan benjolan dengan nitrogen cair untuk menghilangkan ruam tersebut.

2. Scabies (kudis)

Orang dengan HIV atau AIDS bisa terkena jenis penyakit kulit yang disebut kudis berkerak, yaitu ketika kerak tebal terbentuk di kulit. Ruam gatal seperti jerawat ini muncul ketika tungau masuk ke kulit Anda dan bertelur. Penyakit ini mudah menyebar melalui kontak kulit ke kulit dengan orang yang terinfeksi.

Anda dapat tertular scabies HIV jika Anda berbagi barang pribadi seperti handuk dengan seseorang yang terinfeksi. Obat scabies dapat mengatasi masalah ini, namun pasangan dan keluarga Anda juga harus diobati agar tidak terjadi penularan berulang.

3. Fotodermatitis

HIV dapat membuat kulit Anda lebih sensitif terhadap radiasi UV matahari. Setelah Anda keluar rumah, kulit Anda dapat berubah menjadi merah seperti terbakar matahari di area yang terpapar seperti wajah, telinga, kulit kepala, leher, dan dada.

Beberapa obat yang Anda minum untuk mengobati HIV juga dapat membuat Anda lebih sensitif terhadap matahari. Hindari paparan sinar matahari untuk mencegah ruam ini. Saat Anda harus keluar rumah, gunakanlah sunscreen dengan SPF tinggi yang melindungi dari sinar UVA dan UVB.

4. Sarkoma kaposi

Sarkoma kaposi adalah kanker langka ini tumbuh di sel-sel yang melapisi pembuluh limfa dan pembuluh darah, membentuk bercak merah atau ungu yang disebut lesi. Biasanya berada di mulut, hidung, dan tenggorokan tetapi dapat muncul hampir di mana saja.

Sarkoma kaposi merupakan tanda bahwa HIV telah berkembang menjadi AIDS. Saat ini, lebih sedikit orang dengan HIV yang terkena sarkoma kaposi karena sudah diobati dengan antiretroviral therapy (ART). Jika Anda mengalaminya, pengobatan utamanya adalah obat yang dioleskan ke kulit, krioterapi untuk membekukan sel-sel, atau operasi.

5. Prurigo nodularis

Penyakit kulit ini membentuk benjolan keras dan sangat gatal di tempat-tempat seperti leher, bahu, lengan, dan kaki. Penyakit ini lebih umum terjadi pada orang dengan kondisi kulit seperti eksim.

Tetapi, prurigo nodularis juga bisa menjadi tanda bahwa sistem kekebalan tubuh Anda lemah akibat HIV atau AIDS. Krim atau pil steroid adalah pengobatan utamanya. Untuk menghentikan rasa gatal, lembabkanlah kulit Anda setiap hari dengan lotion lembut dan jangan menggaruk ruam ini karena akan memperburuk benjolan.

6. Folikulitis eosinofilik

Folikulitis eosinofilik adalah jenis yang menyerang penderita HIV dan AIDS pada folikel rambut. Ketika bakteri atau kuman lain masuk ke dalam folikel, maka akan menyebabkan pembengkakan dan gatal.

Terkadang, benjolan folikulitis eosinofilik akan terlihat seperti jerawat dan terasa gatal atau berisi nanah. Penyakit ini menyebabkan benjolan di wajah dan tubuh bagian atas. Pengobatannya tergantung pada jenis kuman.

7. Dermatitis seboroik

Dermatitis seboroik ditandai dengan kulit kepala yang gatal dan mengelupas dengan sisik kuning atau putih. Anda mungkin juga melihat kemerahan dan pengelupasan di area seperti wajah dan dada bagian atas.

Anda akan lebih mudah terjangkit dermatitis seboroik jika sistem kekebalan tubuh Anda lemah. Krim antijamur atau sampo obat dapat meringankan gejala ringan. Sementara krim steroid bisa membantu mengurangi pembengkakan dan kemerahan saat terjadi kekambuhan.

8. Kanker kulit

Sistem kekebalan tubuh yang sehat dapat melawan kanker. Namun, ketika sistem kekebalan tubuh melemah akibat HIV atau AIDS, kanker kulit sel basal dan sel skuamosa lebih mungkin berkembang.

Kanker kulit tampak seperti benjolan seperti mutiara atau merah, atau luka datar yang berkerak lalu sembuh. Anda akan melihatnya di area yang terpapar sinar matahari seperti wajah, telinga, leher, dan tangan.

Jika Anda menemukan bintik baru di kulit Anda, atau jika bentuk atau ukurannya berubah, temui dokter kulit. Anda perlu konsultasi ke dokter terkait perubahan kulit seperti kanker ini.

Kapan Gejala HIV pada Kulit Muncul?

Ruam HIV biasanya muncul dalam 2 bulan pertama setelah tertular virus dan mungkin merupakan tanda awal HIV. Ruam, baik yang disebabkan oleh HIV itu sendiri atau obat-obatan, biasanya muncul sebagai area datar dengan benjolan kecil, umumnya di wajah, dada, tangan, atau kaki.

Tingkat keparahannya dapat bervariasi dari ringan hingga berat. Untuk pengobatannya sangat bervariasi tergantung pada penyebabnya, tetapi dapat mencakup pengobatan tanpa resep (OTC), penyesuaian gaya hidup, dan perubahan pengobatan HIV.

Penanganan Gejala HIV pada Kulit yang Tepat

Rencana pengobatan Anda untuk ruam HIV akan bergantung pada penyebab ruam tersebut. Anda harus menemui dokter untuk mengetahui penyebab pastinya karena harus melalui serangkaian tes medis.

Selain pengobatan, beberapa perubahan gaya hidup dapat membantu mengurangi gejala ruam, seperti:

  • Gunakan obat dari dokter: Beberapa obat topikal (obat oles) yang biasanya diresepkan adalah hydrocortisone, calamine, atau lotion pelembab untuk kulit kering dan gatal. Namun, sebaiknya konsultasi dulu sebelum menggunakan obat oles ini.

  • Jaga kebersihan: Mandi 2x sehari dan rutin ganti pakaian Anda, hindari menggaruk ruam agar tidak semakin parah.

  • Hindari panas dan sinar matahari berlebih: Menghindari panas dan sinar matahari langsung dapat memperbaiki beberapa ruam. Sebaiknya tidak berjemur lebih dari jam 8 pagi.

  • Perawatan kulit: Gunakan sabun lembut tanpa pewangi, mandi dengan air hangat kuku, bukan air panas, dan kenakan pakaian berbahan lembut dan menyerap keringat seperti katun.

Intinya, ketika Anda sudah positif HIV dan menunjukkan gejala ruam kulit, maka penanganan yang bisa dilakukan adalah merawat kulit Anda. Untuk virus HIV sendiri tidak akan bisa hilang dari tubuh. Anda harus minum obat seterusnya untuk menjaga agar virus tidak berkembang lebih jauh. Maka dari itu, langkah yang paling tepat adalah menemui dokter profesional untuk mendapatkan pengobatan yang tepat.

Artikel ini Disusun Oleh Mirna S. Tim Medis Klinik kirana dan Sudah ditinjau oleh : dr. Hadi Purnomo - Kepala Dokter Klinik Kirana

Baca Proses Editorial Klinik Kirana disini : Proses Editorial

  • Afshar, Z. M., Goodarzi, A., Emadi, S. N., Miladi, R., Shakoei, S., Janbakhsh, A., Aryanian, Z., & Hatami, P. (2023). A comprehensive review on HIV-associated dermatologic manifestations: From epidemiology to clinical management. International Journal of Microbiology, 2023, Article 6203193. https://doi.org/10.1155/2023/6203193
  • Donaldo Emiliano Silva López, Orlando González Castro, Marlon Omar Martínez Rodríguez, Tania Leyva Castañeda, Claudia Alejandra Lopez Castañeda, and Alondra Martínez Díaz. (2025). “HIV-Related Skin Manifestations: Clinical Presentation”. International Journal of Medical Science and Clinical Research Studies 5 (4):567-71. https://doi.org/10.47191/ijmscrs/v5-i04-13.
  • Wahyuni, E. D., Nursalam, N., Dewi, Y. S., Arifin, H., & Benjamin, L. S. (2024). Electronic nursing documentation for patient safety, quality of nursing care, and documentation: A systematic review. Journal of the Pakistan Medical Association, 74(9), 1669–1677. https://doi.org/10.47391/JPMA.9996
  • Zhang, Y. J., et al. (2025). HIV-Associated Dermatological Alterations: Barrier Dysfunction, Immune Impairment, and Microbiome Changes. International Journal of Molecular Sciences, 26(7), 3199. https://doi.org/10.3390/ijms26073199

Konsultasi Keluhan Anda Bersama Dokter Online. Gratis!

Langsung saja konsultasi online atau reservasi online
di nomor 082122077347 atau dapat mengklik link Konsultasi Gratis. Rahasia Terjamin.

Artikel Terkait