Klamidia pada ibu hamil adalah kondisi yang berbahaya karena bisa berdampak langsung pada janin maupun ibu hamil itu sendiri. Masalahnya, gejala klamidia agak sulit terlihat dan biasanya jarang muncul gejala apapun.
Inilah pentingnya melakukan skrining di awal kehamilan untuk mengetahui apakah ibu hamil terinfeksi klamidia atau IMS lainnya. Simak artikel ini untuk informasi lebih dalam.
Bagaimana Ibu Hamil Bisa Terinfeksi Klamidia?
Ibu hamil dapat terinfeksi Chlamydia trachomatis melalui hubungan seksual yang tidak aman dengan pasangan yang membawa bakteri tersebut. Sama seperti pada orang yang tidak hamil, infeksi terjadi bila bakteri masuk ke saluran genital melalui vaginal atau anal seks tanpa kondom.
Banyak ibu hamil mungkin tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi klamidia karena memang tidak menunjukkan gejala. Kondisi infeksi baru terkonfirmasi sampai pemeriksaan antenatal pertama dilakukan. Oleh karena itu, skrining untuk klamidia biasanya ditawarkan pada awal kehamilan atau saat kunjungan prenatal pertama.
Selain itu, ibu hamil yang sudah berisiko (misalnya memiliki pasangan baru atau tidak monogami) sering disarankan melakukan tes ulang pada trimester selanjutnya untuk memastikan infeksi terdeteksi dan ditangani sebelum persalinan.
Gejala Klamidia pada Ibu Hamil
Infeksi klamidia pada ibu hamil sering tidak menimbulkan gejala, bahkan beberapa wanita tetap sehat secara klinis meskipun bakteri ada. Menurut studi, gejalanya bisa termasuk:
-
Keputihan yang tidak biasa, cairannya berwarna putih keabuan dan berbau menyengat atau berbau busuk
-
Rasa terbakar saat buang air kecil (disuria)
-
Nyeri di daerah panggul atau bawah perut
-
Perdarahan di luar siklus haid atau setelah berhubungan seksual
-
Demam, mual, dan menggigil
-
Nyeri punggung bawah
Gejala-gejala ini pada ibu hamil bisa sulit dibedakan dari perubahan normal kehamilan, sehingga tes laboratorium tetap menjadi cara paling akurat untuk mengetahui adanya infeksi.
Dampak Ibu Hamil yang Terinfeksi Klamidia
Klamidia pada ibu hamil bisa berdampak buruk pada ibu itu sendiri maupun janin yang sedang dikandung.
Dampak pada ibu
-
Pecahnya air ketuban prematur (PROM)
-
Persalinan prematur
-
Infeksi uterus setelah melahirkan (endometritis)
-
Infeksi saluran reproduksi lain yang memicu komplikasi obstetrik
Dampak pada bayi
-
Konjungtivitis (infeksi mata)
-
Pneumonia (infeksi paru-paru)
-
Infeksi nasofaring atau saluran pernapasan atas
Infeksi klamidia yang tidak diobati juga dikaitkan dengan berat badan lahir rendah dan peningkatan risiko perinatal lainnya, meskipun tingkat risiko dapat bervariasi antar populasi dan studi.
Studi menunjukkan bahwa pengobatan dini dapat mengurangi risiko persalinan prematur dan bayi lahir dengan berat rendah. Maka dari itu, skrining dan pengobatan menjadi bagian penting dari perawatan antenatal.
Pengobatan Klamidia pada Ibu Hamil
Menurut CDC, ibu hamil biasanya diberi azithromycin karena opsi lain seperti doxycycline tidak dianjurkan selama kehamilan. Sementara terdapat studi melakukan uji coba acak yang membandingkan azitromisin (Zithromax) dalam dosis tunggal 1 g dengan eritromisin dalam dosis 500 mg setiap 6 jam selama 7 hari dan menemukan peningkatan kepatuhan, efek samping gastrointestinal yang lebih sedikit, dan efektivitas yang setara dengan azitromisin.
Sementara menurut penelitian, erythromycin sering digunakan atau direkomendasikan sebagai salah satu pilihan antibiotik yang aman. Ada juga alternatif lainnya yang aman untuk ibu hamil, seperti amoksisilin atau klindamisin yang dapat digunakan untuk mereka yang tidak toleran terhadap erythromycin.
Jadi, menurut beberapa sumber dan jurnal, obat untuk ibu hamil yang terinfeksi klamidia adalah:
-
Azithromycin
-
Erythromycin
-
Amoxicillin
-
Clindamycin
Untuk dosisnya, Anda sebaiknya mengikuti resep yang diberikan oleh dokter. Ini mengingat bahwa ibu hamil jauh lebih sensitif terhadap obat-obatan dan bisa berdampak langsung pada janin yang dikandung.
Konsultasi Klamidia Gratis di Klinik Kirana
Jika Anda merasakan gejala klamidia seperti disebutkan di atas dan memang aktif secara seksual atau berganti-ganti pasangan seks, Anda harus segera berobat ke dokter. Jika belum pasti, Anda bisa konsultasi online gratis di Klinik Kirana.
Klinik Kirana memiliki fasilitas layanan konsultasi gratis seputar penyakit kelamin atau IMS apapun, baik klamidia, gonore, sifilis, dll. Anda bisa menghubungi tim kami melalui WhatsApp atau dengan mengisi formulir konsultasi. Keamanan dan kerahasiaan Anda sepenuhnya terjamin.
Artikel ini Disusun Oleh Mirna S. Tim Medis Klinik kirana dan Sudah ditinjau oleh : dr. Hadi Purnomo - Kepala Dokter Klinik Kirana
Baca Proses Editorial Klinik Kirana disini : Proses Editorial
- Allaire, A., Nathan, L., & Martens, M. G. Chlamydia trachomatis: Management in pregnancy. Infectious Diseases in Obstetrics and Gynecology, 3(2), 82–88. https://doi.org/10.1155/S1064744995000378
- (termasuk di PubMed Central)
- Tjahyadi, D., Ropii, B., Tjandraprawira, K. D., Parwati, I., Djuwantono, T., & Permadi, W. (2022). Female urogenital chlamydia: Epidemiology, chlamydia on pregnancy, current diagnosis, and treatment. Annals of Medicine and Surgery, 75, 103448. https://doi.org/10.1016/j.amsu.2022.103448
- Chlamydia and pregnancy. Pregnancy Birth and Baby. https://www.pregnancybirthbaby.org.au/chlamydia-and-pregnancy
Konsultasi Keluhan Anda Bersama Dokter Online. Gratis!
Langsung saja konsultasi online atau reservasi online
di nomor 082122077347 atau dapat mengklik link Konsultasi Gratis. Rahasia Terjamin.