Selain pada keseluruhan tubuh, gejala HIV juga bisa muncul spesifik kemaluan pria dan wanita. Beberapa ciri HIV pada kemaluan yaitu terdapat luka lecet atau terbuka, keluar cairan keputihan abnormal, hingga terasa nyeri saat buang air kecil ataupun saat hubungan seksual.
Bagi Anda yang aktif secara seksual dan pernah berhubungan seks berisiko, Anda wajib mengetahui informasi ciri-ciri HIV pada penis dan vagina secara rinci. Anda juga akan mengetahui cara perawatannya, baik pada wanita maupun pria. Simak di sini.
Ciri-Ciri HIV pada Kemaluan
Bagian ini akan membahas gejala yang mungkin muncul pada vagina dan penis ketika tubuh seseorang terinfeksi HIV.
1. Ciri HIV pada kemaluan secara umum
Secara general, baik pada vagina maupun penis, ada beberapa ciri yang sama yaitu:
-
Luka pada kemaluan
-
Cairan (keputihan) abnormal
-
Nyeri saat buang air kecil
-
Sakit saat hubungan seksual
2. Ciri HIV pada vagina
Perempuan dengan human immunodeficiency virus (HIV) memiliki tingkat tinggi penyakit ginekologis yang terjadi bersamaan. Studi terdahulu menyebut bahwa pada satu kelompok perempuan yang dirawat di rumah sakit karena komplikasi HIV, sebanyak 83% didiagnosis memiliki kondisi ginekologi.
Berikut ini adalah ciri-ciri kondisi ginekologi (organ reproduksi wanita) yang terinfeksi HIV:
-
Iritasi atau luka pada vagina: HIV dapat menyebabkan ulkus atau luka pada vagina, yang dapat membuat aktivitas seksual tidak nyaman dan meningkatkan risiko infeksi.
-
Siklus menstruasi abnormal: HIV dapat mengubah keteraturan atau aliran menstruasi dengan memengaruhi keseimbangan hormon.
-
Peningkatan keputihan: Peningkatan keputihan yang tidak biasa pada wanita tertentu yang positif HIV mungkin merupakan tanda infeksi atau dampak virus pada sistem reproduksi.
-
Penyakit radang panggul (PID): PID, gangguan yang melibatkan peradangan organ reproduksi yang dapat menyebabkan nyeri dan ketidaknyamanan di perut, lebih mungkin menyerang wanita dengan HIV karena virus tersebut mengganggu sistem kekebalan tubuh mereka.
3. Ciri HIV pada penis
Berikut ciri-ciri penis yang terinfeksi HIV:
-
Disfungsi ereksi: Infeksi HIV dapat menyebabkan ketidakmampuan untuk mempertahankan ereksi penis yang cukup lama untuk menyelesaikan aktivitas seksual. Studi menyebut bahwa disfungsi ereksi muncul lebih awal pada pria HIV dibandingkan dengan pria yang tidak terinfeksi HIV.
-
Luka pada penis: Ulkus atau ruam di sekitar penis atau anus memungkinkan HIV lebih mudah masuk ke dalam tubuh untuk menimbulkan infeksi.
-
Nyeri dan rasa terbakar saat buang air kecil: Nyeri atau perubahan lain saat buang air kecil (tanda prostatitis, pembengkakan dan peradangan kelenjar prostat yang sering terjadi dengan perubahan buang air kecil).
-
Nyeri dan pembengkakan testis: Ini adalah tanda lain yang mungkin dari klamidia dan gonore, di mana epididimis (tabung yang menyimpan dan mengangkut sperma dari testis) menjadi meradang.
-
Kelainan dan nyeri saat ejakulasi (disorgasmia): HIV dapat ditandai dengan kelainan pada ejakulasi, seperti ejakulasi dini, ejakulasi terhambat, hingga kesulitan ejakulasi.
-
Sakit saat penetrasi: HIV bisa ditandai dengan sakitnya penis saat melakukan penetrasi. Penis juga bisa mengeluarkan cairan tidak biasa dari uretra.
Bagaimana Cara Diagnosa HIV?
Sekitar 40% infeksi HIV baru ditularkan oleh individu yang hidup dengan HIV yang belum terdiagnosis. Deteksi dini sangat penting untuk mengurangi risiko komplikasi terkait HIV dan menurunkan kemungkinan penularan.
Positif atau tidaknya HIV pada tubuh manusia dapat didiagnosa melalui beberapa tes. Menurut jurnal, berikut ini adalah beberapa tes untuk mendiagnosa HIV:
-
Tes antibodi (antibody test): untuk mendeteksi antibodi terhadap HIV dengan sampel darah dan cairan oral (air liur). Biasanya akan baru terlihat hasil positif atau tidak setelah ±3 minggu–3 bulan setelah infeksi. Contoh tesnya yaitu rapid test dan ELISA.
-
Tes antigen–antibodi: untuk mendeteksi antibodi HIV dan antigen p24 (bagian dari virus HIV). Tes ini merupakan tes standar yang paling direkomendasikan karena bisa mendeteksi lebih cepat, sekitar ±14 hari setelah infeksi.
-
Tes RNA HIV (Nucleic Acid Test / NAT): untuk mendeteksi langsung materi genetik virus (RNA HIV). Hasil dari tes ini paling akurat dan cepat, sekitar 5–10 hari setelah terinfeksi dan biasanya digunakan untuk memastikan apakah individu memang terinfeksi HIV atau tidak.
Skrining rutin dianjurkan untuk semua individu berusia 13–64 tahun, terutama jika aktif secara seksual. Tes satu kali cukup untuk sebagian besar individu berisiko rendah. Namun, beberapa golongan orang memerlukan tes lebih sering, yaitu:
-
Pria yang berhubungan seks dengan pria (terutama usia 13–24 tahun)
-
Pengguna narkoba suntik
-
Prostitusi, pekerja seks komersial (PSK)
-
Individu dengan pasangan dengan status HIV tidak diketahui
-
Individu dengan pasangan yang hidup dengan HIV, menggunakan narkoba suntik, atau biseksual
-
Individu yang aktif dalam berhubungan seks dan melakukan seks berisiko, seperti anal seks, ganti-ganti pasangan, hingga seks grup (beberapa orang sekaligus)
Perawatan yang Tepat untuk Kemaluan Terinfeksi HIV
Berikut ini beberapa perawatan pada kemaluan yang bisa Anda lakukan jika sudah terinfeksi HIV dan menunjukkan gejala-gejala klinis seperti yang dijelaskan di atas.
1. Perawatan ginekologis untuk wanita
Menurut studi ilmiah, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk merawat vagina dengan HIV, yaitu:
-
Pemeriksaan panggul rutin dan skrining: Anda bisa melakukan skrining seperti Pap smear dengan rutin karena risiko tinggi terhadap kelainan serviks dan kanker.
-
Pencegahan dan pengobatan IMS: Perempuan dengan HIV lebih rentan terkena IMS dan infeksinya bisa lebih berat. Penting untuk melakukan pencegahan (seperti penggunaan kondom) serta pengobatan yang cepat dan tepat untuk mencegah komplikasi dan penularan lebih lanjut.
-
Konseling kontrasepsi: Konseling bertujuan membantu pasien memilih metode kontrasepsi yang aman dan sesuai. Hal ini penting untuk mencegah kehamilan yang tidak direncanakan serta mempertimbangkan interaksi antara kontrasepsi dan terapi HIV.
-
Penanganan infeksi dan gejala: Infeksi seperti kandidiasis atau vaginitis sering terjadi dan cenderung berulang pada perempuan dengan HIV. Untuk penanganan harus dilakukan secara menyeluruh, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter terlebih dulu.
2. Perawatan andrologi untuk pria
Berikut ini beberapa perawatan genital pria dengan HIV menurut jurnal terdahulu:
-
Perubahan gaya hidup: Berhenti merokok, kurangi alkohol/narkoba, berolahraga, dan pertahankan berat badan yang sehat untuk meningkatkan ereksi secara alami.
-
Sesuaikan pengobatan HIV: Beberapa obat HIV dapat mengganggu hormon, saraf, atau pembuluh darah. Mengganti obat dapat memulihkan disfungsi ereksi jika gejalanya muncul setelah pengobatan.
-
Pengobatan hormon: Jika disfungsi ereksi disebabkan oleh testosteron rendah atau ketidakseimbangan hormon, pengobatan hormon dapat mengembalikan hasrat seksual dan meningkatkan kemampuan tubuh untuk mencapai ereksi.
-
Terapi injeksi/uretra: Obat diberikan langsung ke jaringan penis melewati kebutuhan sinyal saraf dan secara langsung memaksa pelebaran pembuluh darah. Terapi ini tentu saja harus dikonsultasikan dengan dokter terlebih dulu.
-
Alat vakum: Hisapan mekanis akan menarik darah ke penis, kemudian ereksi akan dipertahankan dengan cincin. Ini berfungsi bahkan jika fungsi saraf atau pembuluh darah terganggu.
-
Operasi implan penis: Sebuah alat dimasukkan melalui pembedahan untuk menciptakan ereksi secara manual. Ini digunakan ketika semua perawatan lain gagal. Operasi implan ini permanen dan tidak dapat diubah.
-
Terapi psikologis/seks: Ini bisa dilakukan untuk mengatasi kecemasan, stigma, dan ketakutan secara mental yang dapat menghalangi proses ereksi.
Ketahui Cirinya untuk Penanganan Lebih Dini
Itulah semua ciri-ciri HIV pada kemaluan pria dan wanita yang perlu Anda ketahui. Beberapa ciri utama dan paling umum terjadi adalah adanya luka pada kemaluan, muncul keputihan yang abnormal, hingga nyeri ketika penetrasi.
Jika Anda pernah berhubungan seks berisiko, seperti seks anal, ganti-ganti pasangan seks, hingga seks sesama pria, kemudian merasakan ciri-ciri pada kemaluan seperti di atas, maka sebaiknya segera konsultasikan ke dokter.
Sekalipun tidak positif terinfeksi HIV, bisa jadi Anda tertular infeksi menular seksual (IMS) misalnya gonore, sifilis, hingga herpes. Untuk konsultasi online gratis seputar permasalahan kulit dan kelamin, Anda bisa menggunakan layanan kami dengan menghubungi tim kami melalui menu WhatsApp di atas.
Artikel ini Disusun Oleh Mirna S. Tim Medis Klinik kirana dan Sudah ditinjau oleh : dr. Hadi Purnomo - Kepala Dokter Klinik Kirana
Baca Proses Editorial Klinik Kirana disini : Proses Editorial
- Fernández, L., & Hancock, R. E. W. (2020). Developing diagnostic and therapeutic approaches to infectious diseases. Antibiotics, 9(12), 916. https://doi.org/10.3390/antibiotics9120916
- Moubareck, C. A., & Halat, D. H. (2020). Insights into Acinetobacter baumannii: A review of microbiological, virulence, and resistance features. Antibiotics, 9(3), 119. https://doi.org/10.3390/antibiotics9030119
- National Institutes of Health. (2018). PubMed Central (PMC). https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6194860/
- National Institutes of Health. (2021). PubMed Central (PMC). https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7961513/
Konsultasi Keluhan Anda Bersama Dokter Online. Gratis!
Langsung saja konsultasi online atau reservasi online
di nomor 082122077347 atau dapat mengklik link Konsultasi Gratis. Rahasia Terjamin.