Hal Yang Perlu Diketahui Tentang Skrining Sifilis

Kelamin November 28, 2023
Hal Yang Perlu Diketahui Tentang Skrining Sifilis

Skrining Sifilis dapat membantu untuk mendiagnosis penyakit sifili atau yang lebih dikenal dengan raja singa dalam tubuh lebih awal. 

Skrining sifilis sangat penting dilakukan karena penyakit ini bisa bertahan di tubuh dalam waktu yang lama, tanpa menimbulkan gejala. Jika tidak ditangani penyakit ini dapat menyebabkan banyak komplikasi yang akan lebih memperburuk keadaan hidup Anda.

Mengapa Skrining Sifilis Penting?

Skrining sifilis sangat penting karena pada tahap awal, sifilis sering tidak menunjukkan gejala yang jelas, namun dapat menyebabkan komplikasi serius jika tidak diobati. Deteksi dini melalui skrining memungkinkan pengobatan yang efektif, mengurangi risiko penularan kepada orang lain, dan mencegah kerusakan kesehatan jangka panjang. Skrining sifilis disarankan bagi individu yang:
  • Memiliki gejala sifilis.
  • Berisiko tinggi terkena sifilis, seperti memiliki banyak pasangan seksual, pasangan dengan banyak pasangan, berhubungan seks tanpa pengaman, terinfeksi HIV, atau menderita PMS lain seperti gonore.
  • Hamil, untuk mencegah sifilis kongenital pada bayi.
  • Memiliki riwayat kontak seksual dengan seseorang yang didiagnosis dengan sifilis.

Jenis Skrining Sifilis

Metode Skrining Sifilis Skrining sifilis biasanya melibatkan tes darah untuk mendeteksi antibodi terhadap Treponema pallidum. Tes ini dapat mencakup:

Tes serologi

Tes serologi dilakukan dengan memeriksa darah atau cairan serebrospinal (cairan otak dan tulang belakang). Tes serologi untuk sifilis terdiri dari tes non treponema dan tes treponema yang keduanya perlu dilakukan bersamaan. Berikut ini adalah penjelasannya:

1. Tes nontreponemal

Tes non treponema bertujuan untuk mendeteksi antibodi non treponema yang tidak secara spesifik terkait dengan bakteri T. pallidum. Antibodi ini disebut tidak spesifik karena tidak hanya diproduksi ketika tubuh terinfeksi sifilis, tapi juga ketika tubuh sedang terkena infeksi lain, seperti penyakit Lyme, malaria, atau TBC.

Tes nontreponema terbagi ke dalam dua jenis, yaitu:

  • Rapid Plasma Reagin (RPR): Tes ini mengukur antibodi non-spesifik yang dihasilkan oleh sistem kekebalan tubuh sebagai respons terhadap infeksi.
  • Venereal Disease Research Laboratory (VDRL): Tes serupa dengan RPR yang juga mengukur antibodi non-spesifik.

Tes ini sangat sensitif untuk melihat ada atau tidaknya antibodi non treponema. Namun, karena sifatnya yang tidak spesifik, hasil tes non treponema yang positif belum berarti pasien menderita sifilis. Oleh sebab itu, tes non treponema harus diikuti dengan tes treponema untuk menguatkan diagnosis.

Tes non treponema juga digunakan untuk menentukan apakah infeksi masih aktif atau belum diobati. Hal ini karena antibodi non treponema akan menghilang dari tubuh, kira-kira dalam waktu 3 tahun, setelah infeksi ditangani dengan tepat.

2. Tes treponema

Tes treponema bertujuan untuk mendeteksi antibodi treponema yang secara spesifik ada untuk melawan bakteri T. pallidum. Sekali dihasilkan, antibodi treponema ini akan selalu ada dalam tubuh walaupun pasien sudah sembuh dari sifilis. Artinya, hasil positif tidak selalu berarti ada infeksi sifilis yang aktif.

Oleh karena itu, tes non treponema dibutuhkan untuk memastikan apakah infeksi pada pasien adalah infeksi yang aktif atau infeksi di masa lalu yang berhasil disembuhkan.

Jenis tes treponema antara lain:

  • FTA-ABS (fluorescent treponemal antibody absorption)
  • TP-PA (treponema pallidum particle agglutination assay)
  • MHA-TP (microhemagglutination assay)
  • IA (immunoassays)

Deteksi langsung bakteri T. pallidum

Selain dengan mendeteksi antibodi, skrining sifilis juga dapat dilakukan dengan mendeteksi keberadaan bakteri T. pallidum itu sendiri. Tes ini dibagi menjadi dua, yaitu:

Dark Field microscopy, yaitu dengan mengeruk luka sifilis untuk diperiksa di bawah mikroskop khusus

Tes molekuler atau PCR (polymerase chain reaction), yaitu dengan mendeteksi materi genetik dari T. pallidum pada sampel dari luka, darah, atau cairan serebrospinal pasien]

Proses dan Persiapan Skrining

Untuk tes darah sifilis, tidak ada persiapan khusus yang diperlukan. Sampel darah akan diambil dari vena di lengan. Prosedur ini umumnya cepat dan hanya menyebabkan sedikit rasa sakit atau memar di tempat jarum disuntikkan.

Hasil Skrining negatif pada skrining sifilis umumnya menunjukkan tidak adanya infeksi. Namun, karena antibodi sifilis memerlukan waktu untuk berkembang setelah infeksi, tes ulang mungkin diperlukan jika terdapat risiko paparan baru-baru ini. Hasil positif menunjukkan keberadaan antibodi yang mungkin berasal dari infeksi sifilis, dan memerlukan tes konfirmasi lebih lanjut.

Jika skrining menunjukkan hasil positif, penanganan selanjutnya biasanya melibatkan pengobatan dengan antibiotik, seperti penisilin. Pengobatan ini efektif untuk menyembuhkan infeksi sifilis tahap awal, namun tidak dapat membalikkan kerusakan yang disebabkan oleh sifilis tahap lanjut. Pasien dengan hasil positif juga harus menginformasikan kepada pasangan seksual mereka agar mereka juga dapat menjalani skrining dan pengobatan jika perlu.

Skrining dan Manajemen Sifilis pada Bayi dan Anak

Skrining Sifilis pada Bayi yang Lahir dari Ibu dengan Sifilis Selama Kehamilan harus menjalani serangkaian test, yang meliputi:
  • Pemeriksaan lengkap untuk tanda-tanda sifilis kongenital.
  • Serologi (dari bayi, bukan dari darah tali pusat)
  • Tes RPR paralel dengan RPR ibu.
  • IgM capture EIA.
  • Pemeriksaan patologis plasenta dengan PCR sifilis atau pewarnaan antibodi antitreponemal fluorescent.
  • Tes treponemal mungkin positif hingga 18 bulan karena transfer IgG transplasental
Bayi yang lahir dari ibu yang mendapat pengobatan yang memadai selama kehamilan, yang memiliki pemeriksaan normal DAN nilai RPR sama atau kurang dari 4 kali nilai RPR maternal mungkin tidak memerlukan pengobatan, tetapi harus diikuti pada usia 3, 6, dan 12 bulan dengan pemeriksaan klinis dan serologi sifilis hingga RPR negatif. (Pengobatan yang memadai = penisilin, lebih dari 4 minggu sebelum persalinan dengan pengobatan yang dikonfirmasi oleh penurunan 4 kali lipat dalam nilai RPR).
 
Semua bayi lain harus dianggap berpotensi terinfeksi dan harus menerima pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut untuk sifilis kongenital. Seorang anak dianggap memiliki sifilis kongenital jika:
  • Mereka memiliki tanda-tanda fisik, laboratorium, atau radiografi dari sifilis kongenital (sifilis kongenital yang dikonfirmasi/sangat mungkin) ATAU
  • Mereka lahir dari ibu dengan sifilis yang tidak diobati, tidak memadai, atau suboptimal (sifilis kongenital yang diasumsikan).

Pemeriksaan Tambahan pada Bayi dengan Sifilis Kongenital

  • Tes fungsi hati (+/- USG abdomen).
  • X-ray tulang panjang (tibia, tulang tubular tangan/kaki, tengkorak, klavikula: mencari garis epifisis yang tidak teratur, dekalsifikasi tulang subkondral, destruksi metafisis tibia proksimal).
  • VDRL CSF (Hingga 40% bayi dengan sifilis kongenital simtomatik akan memiliki VDRL positif dari CSF).
  • Penilaian oftalmologi.

Manajemen Bayi dengan Sifilis Kongenital

  • Bayi harus diobati dengan penisilin benzyl intravena 50mg/kg dua kali sehari selama 10 hari.
  • Tindak lanjut pada usia 1, 2, 4, 6, 12 bulan dan hingga RPR negatif.
  • Bayi dengan bukti neurosifilis harus memiliki CSF ulang setiap 6 bulan untuk memastikan perubahan telah terselesaikan.
  • Bayi dengan RPR yang terus bereaksi harus dievaluasi ulang (termasuk CSF) dan diobati selama 10 hari dengan IV benzyl penisilin.
 
Untuk konsultasi, pengecekan dan pengobatan sifilis anda di klinik kirana : Klik disini untuk konsultasi dengan dokter

Artikel ini Disusun Oleh Mirna S. Tim Medis Klinik kirana dan Sudah ditinjau oleh : dr. Hadi Purnomo - Kepala Dokter Klinik Kirana

Baca Proses Editorial Klinik Kirana disini : Proses Editorial

  • Medlineplus. Syphilis Tests-https://medlineplus.gov/lab-tests/syphilis-tests/ . Accessed 30/11/2023
  • Jin J. Screening for Syphilis. JAMA. 2022;328(12):1266. doi:10.1001/jama.2022.16887. Accessed 30/11/2023
  • WHO guideline on syphilis screening and treatment for pregnant women. https://www.who.int/publications/i/item/9789241550093. Accessed 30/11/2023
  • Cantor A, Nelson HD, Daeges M, et al. Screening for Syphilis in Nonpregnant Adolescents and Adults: Systematic Review to Update the 2004 U.S. Preventive Services Task Force Recommendation [Internet]. Rockville (MD): Agency for Healthcare Research and Quality (US); 2016 Jun. (Evidence Syntheses, No. 136.) 1, Introduction. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK368468/. Accessed 30/11/2023

Konsultasi Keluhan Anda Bersama Dokter Online. Gratis!

Langsung saja konsultasi online atau reservasi online
di nomor 082122077347 atau dapat mengklik link Konsultasi Gratis. Rahasia Terjamin.

Artikel Terkait