HIV dan AIDS saling berkaitan satu sama lain. HIV merupakan virus yang menginfeksi tubuh manusia, sementara AIDS adalah tahap terakhir yang sudah parah dari perkembangan HIV itu sendiri.
Tidak semua orang yang terinfeksi HIV akan positif AIDS karena masih bisa dihindari dengan penanganan yang tepat sebelum sampai ke tahap AIDS. Cara mencegahnya adalah dengan deteksi lebih dini dan pengobatan yang tepat.
Istilah HIV dan AIDS sendiri digunakan secara bergantian sehingga menyebabkan kebingungan tentang perbedaannya. Melalui artikel ini, Anda akan memahami definisi dan perbedaan kedua istilah tersebut.
Perbedaan HIV dan AIDS
Perbedaan HIV dan AIDS bisa dilihat dari beberapa aspek, yaitu definisi, gejala, cara diagnosa, hingga cara menanganinya.
1. Definisi
HIV adalah singkatan dari human immunodeficiency virus, yaitu virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, terutama sel CD4. HIV termasuk dalam kelompok virus yang disebut retrovirus. HIV menyerang sel darah putih dalam sistem kekebalan tubuh dan sel darah putih ini akan tetap terinfeksi seumur hidup.
AIDS adalah singkatan dari acquired immune deficiency syndrome, yaitu kondisi defisiensi imun akibat dari HIV yang tidak kunjung diobati. Maka dari itulah AIDS sering juga disebut sebagai HIV stadium lanjut.
AIDS merupakan istilah umum untuk penyakit yang terjadi karena infeksi HIV yang tidak diobati selama beberapa tahun, di mana pada titik tersebut sistem kekebalan tubuh telah rusak parah dan tidak mampu melawan infeksi. Penyakit dan gejalanya akan bervariasi untuk setiap orang yang menderita AIDS, tetapi dapat mencakup infeksi yang mengancam jiwa dan kanker.
2. Gejala
NHS menyebut bahwa gejala HIV (stadium awal) akan memunculkan penyakit mirip flu singkat sekitar 2–6 minggu setelah terinfeksi HIV. Gejala tersebut dapat meliputi:
-
Sakit tenggorokan
-
Demam tinggi
-
Pembengkakan kelenjar getah bening
-
Nyeri otot dan kelelahan
-
Ruam kulit
-
Nyeri sendi
-
Keringat malam
-
Diare
Selanjutnya untuk gejala AIDS, menurut jurnal, beberapa kondisi yang mendefinisikan AIDS meliputi:
-
Kandidiasis saluran pencernaan (selain sariawan)
-
Kandidiasis saluran pernapasan
-
Kanker serviks invasif
-
Kriptosporidiosis atau isosporiasis usus kronis
-
Retinitis sitomegalovirus
-
Sarkoma Kaposi
-
Ensefalitis HIV dan gangguan neurokognitif terkait HIV
-
Tuberkulosis
-
Infeksi mikobakterial
-
Pneumonia Pneumocystis jirovecii
-
Leukoensefalopati multifokal progresif
-
Septikemia Salmonella
-
Talaromikosis (dahulu penisiliosis)
Studi menyebut bahwa kondisi AIDS ini cenderung paling sering terjadi dengan jumlah CD4+ yang rendah <200 sel/mm3, yang berkorelasi dengan HIV stadium lanjut yang tidak diobati karena jumlah limfosit total berkurang seiring waktu.
3. Cara diagnosa
Cara mengetahui HIV (stadium awal) adalah dengan tes diagnosis menggunakan:
-
Tes antigen/antibodi (p24 + antibodi HIV)
-
Tes asam nukleat (RNA HIV) untuk mendeteksi virus lebih awal
Untuk AIDS, diagnosisnya didasarkan pada status HIV positif PLUS, yaitu jumlah CD4 < 200 sel/mm³ atau adanya penyakit yang mendefinisikan AIDS (infeksi oportunistik/kanker). Anda bisa ke rumah sakit atau layanan kesehatan untuk mendapatkan semua tes ini.
4. Cara menangani
Perbedaan antara HIV dan AIDS selanjutnya adalah cara menanganinya. Untuk HIV (stadium awal) akan ditangani melalui Antiretroviral Therapy (ART) dengan segera. Tujuan dari pengobatan ART:
-
Menekan viral load
-
Mempertahankan fungsi imun
-
Mencegah perkembangan menjadi AIDS
Untuk AIDS juga masih diobati dengan ART, tetapi penanganannya lebih kompleks karena harus mengobati infeksi oportunistik (misalnya, antibiotik, antijamur). Selain itu, pengobatan juga harus meliputi pemberian profilaksis untuk mencegah infeksi baru.
Bagaimana Cara Membedakan Keduanya?
Anda bisa membedakan HIV (tahap awal) dan AIDS dengan melihat gejala yang terjadi pada tubuh Anda dan juga melalui tes diagnosa. Perbedaan gejala sudah dijelaskan di atas. Anda hanya perlu mencocokkan dengan kondisi Anda.
Untuk tes HIV dan AIDS yang bisa dilakukan juga sudah dijelaskan di atas. Sebaiknya Anda tidak self-diagnosed hanya dari gejala yang muncul karena bisa jadi itu bukan HIV, melainkan penyakit menular seksual, seperti gonore, herpes, sifilis, dll. Maka dari itulah tes untuk diagnosa sangat dianjurkan agar hasilnya akurat.
Deteksi HIV Lebih Awal untuk Mencegah AIDS
Jadi, HIV dan AIDS adalah dua hal yang berbeda namun saling berkaitan. HIV adalah nama virus yang menyerang sel darah putih pada tubuh, sementara AIDS adalah tahap terakhir dan sudah parah akibat HIV yang tidak diobati dengan benar.
Ketika Anda mampu mendeteksi HIV di tubuh lebih dini dan mendapati pengobatan yang tepat, maka virus tidak akan berkembang sampai tahap AIDS. Inilah yang harus Anda perhatikan karena kebanyakan orang akan langsung menganggap bahwa ketika terinfeksi HIV maka sudah pasti positif AIDS.
Sebaiknya Anda rutin melakukan skrining HIV jika Anda aktif secara seksual dan juga melakukan seks berisiko, seperti seks tanpa kondom, seks anal, hubungan seks sesama pria, hubungan seks grup, dan sering ganti pasangan seks.
Artikel ini Disusun Oleh Mirna S. Tim Medis Klinik kirana dan Sudah ditinjau oleh : dr. Hadi Purnomo - Kepala Dokter Klinik Kirana
Baca Proses Editorial Klinik Kirana disini : Proses Editorial
- National Health Service. HIV and AIDS. NHS. https://www.nhs.uk/conditions/hiv-and-aids/
- Swinkels, H. M., Nguyen, A. D., & Gulick, P. G. (2026). HIV and AIDS. StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK534860/
Konsultasi Keluhan Anda Bersama Dokter Online. Gratis!
Langsung saja konsultasi online atau reservasi online
di nomor 082122077347 atau dapat mengklik link Konsultasi Gratis. Rahasia Terjamin.